Ekonom Ungkap Tantangan Indonesia Masuk OECD

Pengamat ekonomi dari Indonesia Strategic and Economic Action Institution, Ronny P. Sasmita mengevaluasi, Indonesia masuk member Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) akan terima banyak profit, namun sisi lain ada hal jadi perhatian mengenai kesediaan mempraktikkan platform ekonomi politik di OECD.

Ronny menuturkan, Indonesia masuk OECD atau Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi mensupport kerja sama ekonomi dengan negara member OECD lebih gampang dijalin. Hal itu, menurut Ronny akan sangat bagus untuk meningkatkan kinerja ekspor nasional ke depan.

Serta bisa mengakses lebih banyak sumber “know how” dari negara-negara member OECD yang telah masuk klasifikasi negara maju seperti Jepang, Amerika Serikat, Prancis, Jerman. Di satu sisi apalagi sejak satu jangka waktu lalu sesungguhnya Indonesia telah menjadi key partner dari OECD,” kata dia dikutip dari keterangan legal, ditulis Rabu (15/5/2024).

Ia menambahkan, secara geopolik member OECD lebih netral dibandingkan memilih menjadi member BRICS+. “Jadi menjadi member OECD lebih mewakili spirit politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif,” kata dia.

Ronny mengatakan, cuma saja Indonesia juga sepatutnya berkaca terhadap kondisi dan praktik ekonomi yang ada https://www.bluefinsushithaialameda.com/ di Indonesia saat ini.

“Bagaimanapun, sebagaimana dikenal, eksistensi OECD adalah untuk menguatkan eksistensi ekonomi pasar di satu sisi dan mensupport mulusnya cara kerja institusionalisasi demokrasi di sisi lain,” kata dia.

Ronny juga memandang secara teknisk ada pula keharusan untuk menangani kabar lingkungan. “Artinya, tentunya sepatutnya ada adjustment yang sepatutnya dilaksanakan Indonesia agar layak platform policy yang di-endorse oleh OECD,” ujar Ronny.

Ia mencontohkan, kebijakan dan praktik ekonomi di Indonesia juga apakah telah memenuhi kualifikasi menjadi member OECD. Kecuali itu, praktik kebijakan lingkungan. “Apakah Indonesia telah memiliki praktik kebijakan lingkungan yang layak dengan minimum requirement yang diharapkan OECD, misalnya? Apabila telah, kenapa Eropa masih bermasalah dengan kabar lingkungan dibalik pelarangan ekspor CPO dari Indonesia ke area Eropa,” kata dia.

Kesanggupan Indonesia

Tal cuma itu, menurut Ronny yang menjadi perhatian mengenai suara organisator pro demokrasi yang memandang ada kemunduran di dalam praktik demokrasi Indonesia, kabar Incremental Capital Output Ratio (ICOR) di Indonesia yang sangati tinggi dan praktik ekonomi pasar yang masih jauh dari keinginan di Indonesia.

“Jadi aku kira, dari sisi idealitas masuk OECD sangat bagus untuk Indonesia karena prasyarat-prasyarat yang sepatutnya dipenuhi akan membuat economic governance atau tata kelola ekonomi di Indonesia menjadi lebih bagus,” kata dia.

“Tetapi, masalahnya apakah Indonesia benar-benar bisa memenuhi prasyarat tersebut dan bersedia mulai mempraktikkan platform ekonomi politik apa OECD, sekalipun mungkin akan bertentangan dengan kepentingan politik sekarang dan pemerintahan yang baru,” dia menambahkan.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *